Monday, October 10, 2011

Pemborosan uang tak beralasan

·

Seorang teller menghitung uang di salah satu bank swasta, di Jakarta, Senin (23/11). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antar bank di Jakarta menguat 30 poin atau 0,32 persen ke level 9.475. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO Interaktif,:- Anda mungkin berpikir telah memegang kendali atas pengeluaran yang dilakukan, tapi beberapa studi menunjukkan kebanyakan orang tidak bisa mengendalikan keinginannya untuk menghambur-hamburkan uang.



"Kebanyakan orang tergoda oleh faktor lingkungan saat berbelanja, lebih dari yang kita bayangkan," kata Martin Lindstrom, Ahli Pemasaran dan Penulis buku Buyology: Truth and Lies About Why We Buy.






Dikutip dari laman Msn, inilah 5 alasan aneh seseorang menghamburkan uang.






1. Berbelanja saat merasa lapar



Beberapa studi menunjukkan, dalam kondisi kelaparan, bagian utama dari otak kita akan mengirimkan sinyal secara agresif untuk mendapatkan makanan sebanyak mungkin. Sebuah studi di 2008 silam menyebukan, saat lapar, orang itu akan adiktif pada makanan dan terus-menerus meminta makan hingga akhirnya otak mengirimkan sinyal tanda kekenyangan.






2. Berbelanja dengan teman



Terkadang berbelanja dengan teman akan menekan budget keuangan Anda. Ia akan membantu Anda untuk berbelanja secara impulsif. Namun jika Anda memilih teman yang salah, hal sebaliknya pun dapat terjadi."






3. Tingkat keimananan



Anda mungkin tidak pernah menyangka, tingkat keimanan ternyata berpengaruh terhadap kebiasaan berbelanja seseorang. Berdasarkan studi yang dilakukan setahun lalu oleh Gavan Fitzsimons, Professor Pemasaran dan Psikolog dari Duke University, menyebutkan bahwa kaum sekuler menghabiskan lebih banyak uang dibandingkan dengan kaum religius.



Lebih lanjut ia menyebutkan, kaum sekuler akan membeli barang-barang bermerk untuk menunjukkan jati dirinya dimana kaum religius lebih memilih untuk berbelanja barang-barang tidak bermerk. Sudah pasti barang branded memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan yang generik.






4. Suasana hati



Sebuah penelitian yang dilakukan di Harvard menunjukkan suasana hati ternyata mempengaruhi pola belanja seseorang. Saat berada dalam kondisi yang sedih, seseorang akan berbelanja lebih banyak untuk memuaskan argumentasinya dan membuat dirinya lebih senang.





5. Ukuran kereta belanja



Lindstrom berpendapat ukuran kereta belanja mengambil peranan yang besar terhadap nilai belanja Anda. Kereta belanja ini berpengaruh terhadap berapa lama Anda akan bertahan di pertokoan dan berapa besar kebutuhan Anda untuk berbelanja. Semakin besar kereta belanjaan yang Anda pakai, semakin lama Anda berdiam diri di pertokoan dan semakin banyak barang yang Anda ingin beli.

0 comments:

Blog Archive